Artificial Intelligence (AI) Dan IoT (Internet of Thing) dalam Pembelajaran

Fahri Firdaus
P2A118009

Mendalami AI

Hal pertama yang biasanya orang pikirkan ketika mendengar istilah AI adalah robot. Karena film dan novel populer yang menceritakan mesin mirip manusia yang mendatangkan malapetaka di Bumi.

Sedangkan Kecerdasan buatan didasarkan pada prinsip bahwa kecerdasan manusia dapat didefinisikan sedemikian rupa sehingga mesin dapat dengan mudah menirunya dan menjalankan tugas, dari yang paling sederhana hingga yang lebih kompleks. Tujuan kecerdasan buatan meliputi pembelajaran, penalaran, dan persepsi.

Seiring kemajuan teknologi, tolok ukur sebelumnya yang mendefinisikan kecerdasan buatan menjadi ketinggalan zaman. Sebagai contoh, mesin yang menghitung fungsi dasar atau mengenali teks melalui pengenalan karakter yang optimal tidak lagi dianggap sebagai kecerdasan buatan, karena fungsi ini sekarang dianggap sebagai fungsi komputer yang melekat.

AI terus berkembang untuk menguntungkan banyak industri yang berbeda. Mesin ditransfer menggunakan pendekatan lintas disiplin yang berbasis di matematika, ilmu komputer, linguistik, psikologi, dan banyak lagi.

Kategori AI

AI memiliki 2 kategori yaitu lemah atau kuat. AI lemah (weak AI) yang juga dikenal sebagai AI sempit adalah sistem AI yang dirancang dan dilatih untuk tugas tertentu. Asisten pribadi virtual, seperti Apple Siri, adalah bentuk AI yang lemah. Sedangkan AI kuat (strong AI), juga dikenal sebagai kecerdasan buatan umum adalah sistem AI dengan kemampuan kognitif manusia secara umum. Ketika disajikan dengan tugas khusus, sistem AI kuat dapat menemukan solusi tanpa campur tangan manusia.

  Jenis AI


Arend Hintze, asisten profesor biologi integratif dan ilmu komputer dan teknik di Michigan State University, mengkategorikan AI menjadi 4 jenis, dari jenis sistem AI yang ada saat ini hingga sistem yang hidup, yang belum ada. Kategorinya adalah sebagai berikut:

Tipe 1: Mesin reaktif. Contohnya, Deep Blue, program catur IBM yang mengalahkan Garry Kasparov pada 1990-an. Deep Blue dapat mengidentifikasi bagian-bagian di papan catur dan membuat prediksi, tetapi ia tidak memiliki ingatan dan tidak dapat menggunakan pengalaman masa lalu untuk memberi tahu langkah berikutnya. Ini menganalisis kemungkinan langkah lawan dan dirinya sendiri serta memilih langkah paling strategis. Deep Blue dan GoogleGOGO dirancang untuk tujuan yang sempit dan tidak dapat dengan mudah diterapkan pada situasi lain.

Tipe 2: Memori terbatas. Sistem AI ini dapat menggunakan pengalaman masa lalu untuk menginformasikan keputusan masa depan. Beberapa fungsi pengambilan keputusan dalam mobil self-driving dirancang dengan cara ini. Pengamatan menginformasikan tindakan yang terjadi di masa depan yang tidak terlalu jauh, seperti jalur penggantian mobil. Pengamatan ini tidak disimpan secara permanen.

Tipe 3: Teori pikiran. Istilah psikologi ini mengacu pada pengertian bahwa orang lain memiliki keyakinan, keinginan sendiri dan niat yang memengaruhi keputusan yang mereka buat. AI jenis ini belum ada sampai saat ini.

Tipe 4: Kesadaran diri. Dalam kategori ini, sistem AI memiliki rasa diri, memiliki kesadaran. Mesin dengan kesadaran diri memahami keadaan mereka saat ini dan dapat menggunakan informasi untuk menyimpulkan apa yang orang lain rasakan. AI jenis ini belum ada sampai saat ini.

Internet of Things (IoT) adalah konsep komputasi tentang objek sehari-hari yang terhubung ke internet dan mampu mengidentifikasi diri ke perangkat lain.
IOT
Internet of Thinks

internet of Things atau IoT adalah sebuah konsep besar saat ini yang dinilai mampu merevolusi semua industri dan juga masyarakat. Bahkan sudah di kembangkan dalam dunia pendidikan pun Internet of Things ini menjadi salah satu teknologi yang saat ini dipertimbangkan oleh para pengajar maupun anggota pemerintah yang terkait dengan pendidikan untuk menggunakannya guna berinovasi dan meningkatkan pembelajaran. Memiliki ciri yang dapat mempermudah seorang pengajar dalam menyampaikan materi ajar.
Salah satu contohnya yaitu pemanfaatan internet untuk kegiatan pembelajaran mata kuliah mikrokontroller yang diterapkan di program studi Teknik Elektro UNISNU Jepara. Internet tersebut digunakan sebagai sarana untuk sistem kontrol otomatis dengan jarak jauh menggunakan mikrokontroller. Penerapan dari internet of things (IoT) di teknik elektro UNISNU Jepara adalah berupa pengendalian perangkat elektronik berupa lampu LED menggunakan mikrokontroller arduino uno dengan memanfaatkan internet.

Dapat disimpulkan bahwa teknologi yang dimanfaatkan secara baik dalam sebuah proses pembelajaran akan mempermudah pemebelajaran itu sendiri sehingga akan ada ketercapaian terhadap tujuan  pembelajaran.
 











Komentar

  1. Salam AI dan IoT ...

    Izin menanggapi terkait ulasan di atas khususnya mengenai AI dan IoT dalam pembelajaran. AI dan IoT sudah tidaklah asing ditelinga kita. Banyak sekali perangkat digital yang kita lihat, manfaatkan dan berdayakan saat ini sesungguhnya merupakan bagian dari AI dan IoT, meskipun belum secanggih yang diterapkan saat ini di negara-negara maju. Namun, yang perlu diyakini adalah AI is natural language processing atau proses mentransformasi keinginan-keinginan ilmiah pada diri manusia. Sehingga bisa saja AI atau kecerdasan buatan akan sama atau bahkan melebihi kecerdasan manusia.

    Teknologi sudah menjadi bagian dari nafas manusia dan integral dalam kehidupan. Pembelajaran sekarang bukan tentang dan dari teknologi, namun telah beralih menjadi dengan atau melalui teknologi. Untuk itu, mempersiapkan diri dengan bekal ilmu pengetahuan yang cukup serta terus mengikuti perkembangan TIK (ICT) adalah hal-hal yang perlu dilakukan pada era ini. Jika tidak maka kita akan tergilas dengan roda perkembangan zaman tersebut.

    Untuk melihat peran IoT dalam pembelajaran, maka perlu dilihat kembali esensi IoT tersebut dalam dunia pembelajaran yakni bagaimana perangkat digital tersebut dapat melayani kebutuhan pebelajar yang berbeda-beda, karena mengingat karakteristik pebelajar itu tidaklah sama. IoT dalam pembelajaran adalah suatu hal yang tidak dapat dihindarkan. Untuk itu tentunya AI dan IoT ini suatu saat akan mengancam keberadaan profesi pendidik yang masih menggunakan cara-cara klasik. Dengan AI dan IoT maka kendala-kendala teknis manusia dapat diselesaikan dengan menggunakan perangkat mesin ataupun komputer.

    Mungkin itu saja yang ingin saya tambahkan dan terima kasih.

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum, wr.wb

    kita semua setuju selaku teknolog pendidikan , bahwa teknologi sudah menjadi sesuatu yang tidak dapat di hindari keberadaan nya dalam proses pendidikan, namun pertanyaan nya apa benar menjadi ancaman bagi guru selaku pembelajar. lantas apa yang harus kita lakukan. ini pertanyaan sebagai bentuk tanggapan atas tambahan dari saudari.
    terima kasih

    BalasHapus
  3. Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh...

    Izin menanggapi, Menurut Saya Teknologi dimanfaatkan Manusia sebagai penunjang, sedangkan Objek yang memegang kendali terhadap teknologi itu sendiri adalah kita sendiri, kecerdasan buatan (AI) dan IoT telah merancah ke berbagai bidang, namun untuk kondisi di Negara kita secara Universal khususnya di bidang Pendidikan masih mengalami keterbatasan fasilitas penunjang untuk pemanfaatan teknologi Digital, ketika sarana dan Fasilitas terpenuhi tentunya mau atau tidak mau, suka atau tidak suka para pendidik harus mawas diri dan segera berbenah dengan melek teknologi, karena ketika sarana dan fasilitas terpenuhi namun SDM tidak menunjang pastinya SDM yang tersedia akan tergilas dan mengalami keterpurukan secara pengalaman dan implementasi teknologi.

    Dibidang sains, matematika dan teknologi kita masih mengejar ketertinggalan dengan negara-negara berkembang lainnya. percepatan diberbagai bidang perlu menjadi perhatian bersama. Hal ringan yang bisa kita lakukan adalah mengasah potensi orang-orang terdekat kita agar memiliki daya saing di era digital yang kita adalah individu yang memiliki peran didalamnya.

    Demikian, Terima Kasih...

    BalasHapus
  4. Assalamualaikum,,
    salam sejahtera bagi kita..

    Suatu bahasan yang sangat menarik ditengah pesatnya perkembangan teknologi di era digital saat ini, mengomentari tentang Kecerdasan buatan ( AI ) dan Internet of Things ( IoT ) yang memang tanpa kita sadari telah menggeser kebiasan-kebiasaan lama yang dilakukan individu, budaya baru mulai bermunculan bahkan karena perbedaan cara mempersepsi individu terhadap sebuah informasi yang sama, bahkan berpeluang untuk terjadinya mis konsepsi dan mis komunikasi,

    menurut Penulis bagaimana kecerdasan buatan AI dan IoT dapat mengatasi situasi yang muncul sebagai dampak dari perkembangan dan kemudahan akses terhadap berbagai informasi tersebut, ?
    Demikian terima kasih.. Salam Sukses... Wassalam.

    BalasHapus
  5. Assalamu'alaikum. izin komen bang.begitu panjang penjelasan yang bang fahri berikan, dan sangat lengkap. semoga makin bermanfaat dan berkah ilmunya.
    dan satu hal yang ingin saya tanyakan,, yaitu apakah Dalam kecerdasan buatan itu mampu bertahan dalam waktu lama, dan mampu kah kecerdasan buatan itu untuk mendeteksi apapun yang terjadi dalam diri seorang yang memanfaatkan kecerdasan tersebut?

    BalasHapus
  6. Assalamualaikum..
    Saya tertarik dengan tulisan artikel yang saudara sampaikan bahwa dengan perkembangan zaman IOT perlu dalam pembelajaran. namun apa yang menjadi keterbatasan atau kendala dalam sehari-hari dalam pemanfaat IOT tersebut?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ALTERNATIF TUNTUNTAN DUNIA KERJA PEGAWAI E-OFFICE UNTUK MENDUKUNG E-GOVERNMENT DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN BATANG HARI

Uji Homogenitas

Landasan Penggunaan TIK dalam Distance Education