E Learning Kementerian Keuangan

e-Learning(Pembelajaran Jarak Jauh) memang merupakan suatu teknologi pembelajaran yang yang relatif baru di Indonesia. Untuk menyederhanakan istilah, maka electronic learning disingkat menjadi e-learning. Kata ini terdiri dari dua bagian, yaitu ‘e’ yang merupakan singkatan dari ‘electronica’ dan ‘learning’ yang berarti ‘pembelajaran’. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika. Jadi dalam pelaksanaannya e-learning menggunakan jasa audio, video atau perangkat komputer atau kombinasi dari ketiganya. 
Penggunaan teknologi e-learning sebenarnya bisa dipakai untuk pendidikan tatap muka atau pendidikan jarak jauh tergantung dari kepentingannya.
e-Learning akan dimanfaatkan atau tidak sangat tergantung bagaimana pengguna memandang atau menilai e-learning tersebut. Namun umumnya digunakannya teknologi tersebut tergantung dari:
  1. Apakah teknologi itu memang sudah merupakan kebutuhan 
  2. Apakah fasilitas pendukungnya yang memadai,
  3. Apakah didukung oleh dana yang memadai dan 
  4. Apakah ada dukungan dari pembuat kebijakan.

Berikut ini beberapa prinsip penting yang dianut dalam teori e-learning, yaitu:

Prinsip Multimedia

Dalam teori e-learning dianut prinsip bahwa pembelajaran yang melibatkan kombinasi beragam media seperti audio, visual,  dan teks akan memberikan kesempatan untuk siswa belajar secara lebih baik dan lebih mendalam dibanding media yang hanya mengakomodasi salah satunya saja.

Prinsip Modalitas

Pembelajaran akan lebih efektif ketika suatu visual dikombinasikan dengan narasi audio dibanding penjelasan melalui teks pada layar. Akan tetapi terdapat pengecualian ketika pembelajar telah mengetahui atau mengenal tentang konten yang sedang disajikan, atau narasi diberikan dalam bahasa asing, atau ketika pembelajar mengulang-ulang bahan pembelajaran multimedia tersebut.

Prinsip Koheren

Prinsip koheren dapat dijelaskan seperti ini: ketika seorang pembelajar (siswa) makin tidak mengetahui tentang konten yang akan dibelajarkan, maka semakin ia terganggu oleh hal-hal yang tidak berhubungan dengan konten yang juga tersaji di dalam media (multimedia) tersebut, seperti musik, bagian video yang tidak berhubungan, grafis, dan sebagainya. Akan tetapi keadaan dapat sebaliknya pada siswa yang telah mengetahui konten tersebut, makin banyak ia mengetahui konten yang disajikan dengan hal-hal lain yang tidak relevan, makin membuat ia termotivasi.

Prinsip Persentuhan

Prinsip persentuhan maksudnya, adalah dalam belajar sesuatu, siswa akan lebih efektif ketika informasi-informasi atau konten yang saling berkaitan dan berhungan disajikan secara bersama-sama atau berurutan.

Prinsip Segmentasi

Belajar, menurut prinsip segmentasi akan lebih efektif ketika konten dipotong-potong menjadi sub-sub bagian sehingga lebih mudah dicerna oleh siswa (pembelajar). Menyajikan konten secara segmental akan membuat pembelajaran menjadi lebih mendalam dan mudah dipahami. Setiap segmentasi pembelajaran juga harus ditunjukkan secara jelas kepada siswa (pembelajar).

Prinsip Simbolik

Dalam e-learning, belajar akan lebih mudah dengan ditambahkannya simbol-simbol yang relevan seperti tanda panah, menambahkan lingkaran pada kata-kata penting, memberi cetak tebal, warna khusus, dan sebagainya.

Prinsip Kontrol oleh Siswa (Pembelajar)

Prinsip kontrol oleh pelajar (siswa) maksudnya adalah, pembelajaran akan semakin efektif ketika mereka mempunyai kesempatan untuk mengontrol kapan mereka memberikan pause, mundur ke belakang, mainkan, berhenti (dalam bentuk tombol-tombol) sehingga mereka mampu menyesuaikan kecepatan pembelajaran dengan kecepatan belajar mereka masing-masing. Atau mereka dapat mengulang-ulang bagian-bagian tertentu yang belum jelas dan kurang dipahami.

Prinsip Personalisasi

Walaupun e-learning sesungguhnya menggunakan komputer dalam pelaksanaannya, akan tetapi prinsip personalisasi tetap harus dipegang teguh. Dalam hal ini, misalnya ketika menggunakan suara untuk narasi, bagaimana narasi dibuat harus diperhatikan baik mengenai kata-kata yang digunakan hingga intonasi dan cara pengucapannya sehingga siswa atau pembelajaran merasa seakan-akan ia tengah belajar dengan manusia dan bukan dengan seperangkat alat.

Prinsip Pre-Training

Prinsip pre-training maksudnya adalah, dalam e-learning perlu disiapkan bahan-bahan pembuka untuk mengenalkan apa yang akan mereka pelajari dengan memberikan misalnya kata-kata kunci atau menyebutkan tujuan yang akan dicapai serta bagaimana mereka akan belajar di awal pembelajaran. Hal ini telah diketahui mampu membantu siswa yang memiliki sedikit pengetahuan (bekal) awal tentang konten yang akan disajikan.

Prinsip Tidak Mubazir

Dalam e-learning perlu dihindari konten yang mubazir. Contoh konretnya misalnya ketika disajikan sebuah grafik lalu diberikan narasi dan diberikan pula penjelasan berupa teks, maka ini dapat dikatakan sebagai sebuah kemubaziran. Jadi ini harus dihindari. Jika grafik ingin ditemani dengan narasi berbentuk audio, maka janganlah menggunakan teks karena justru akan mengganggu, dan begitu pula sebaliknya, jika menggunakan teks, kurangilah narasi.

Demikian beberapa prinsip-prinsip dalam teori e-learning yang harus diperhatikan dalam sebuah pembelajaran menggunakan e-learning atau dalam sebuah multimedia pembelajaran berbasis e-learning.



[E-Learning] Pengantar Manajemen Keuangan Negara

[E-Learning] Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan Satuan Kerja Pemerintah Pusat

Pembelajaran di atas adalah pembelajaran jarak jauh yang merupakan program dari Kementerian Keuangan dan  melalui itu setiap instansi daerah yang membidangi masalah keuangan mendapatkan informasi tentang kegiatan keuangan, beberapa Organisasi Pemerintah Daerah termasuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang Hari, melakukan hal yang sama. Sehingga sangan bermafaat dalam menyelenggarakan kegiatan keuangan di OPD masing-masing.

data tentang penggunaan anggaran, aturan keuangan semua bisa di akses melalui kemenkeu.go.id

 

 


Komentar

  1. Salam Distance Learning...

    Untuk yang kedua kalinya kami memohon maaf jika menyatakan tampilan atau layout Saudara Abang Fahri sulit untuk dibaca, selain dengan font huruf yang kecil, warna background serta warna huruf juga kurang mendukung sehingga pembaca sulit memahami isi artikel yang dituliskan. Sangat disayangkan...

    Selanjutnya, izin menanggapi artikel tersebut bahwa seperti yang kita ketahui bersama e-learning atau pembelajaran elektronik hanyalah contoh/sebagian dari PJJ (distance learning). Masih banyak jenis-jenis yang lainnya, seperti web based learning, online learning, blended learning dan sebagainya. Selain itu untuk e-learning sendiri tidak harus berbasis online (internet) tapi dapat juga offline. Artinya perangkat/bahan ajar/belajar dimasukkan ke dalam softfile bentuk VCD atau semacamnya sehingga dapat dipelajari secara mandiri oleh pebelajar yang tidak memungkinkan bertemu dengan pembelajar. Intinya PJJ mengutamakan prinsip kemandirian.

    Terima kasih.

    BalasHapus
  2. memang sangat bisa dengan cara melalui diskusi online karena pembelajaran e-learning tidak sepenuhnya online namun bisa melalui tatap muka dan learning by doing incidental learning, jadi guru masih tetap bisa menilai siswa melalui berbagai aspek afektif dan psikomotorik.

    terima kasih atas tanggapannya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ALTERNATIF TUNTUNTAN DUNIA KERJA PEGAWAI E-OFFICE UNTUK MENDUKUNG E-GOVERNMENT DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN BATANG HARI

Uji Homogenitas

Landasan Penggunaan TIK dalam Distance Education