E Learning Kementerian Keuangan
e-Learning(Pembelajaran Jarak Jauh) memang merupakan suatu teknologi pembelajaran yang yang relatif baru di
Indonesia. Untuk menyederhanakan istilah, maka electronic learning
disingkat menjadi e-learning. Kata ini terdiri dari dua bagian, yaitu
‘e’ yang merupakan singkatan dari ‘electronica’ dan ‘learning’ yang
berarti ‘pembelajaran’. Jadi
e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan
perangkat elektronika. Jadi dalam pelaksanaannya e-learning menggunakan
jasa audio, video atau perangkat komputer atau kombinasi dari ketiganya.
Penggunaan teknologi e-learning sebenarnya bisa dipakai untuk
pendidikan tatap muka atau pendidikan jarak jauh tergantung dari
kepentingannya.
e-Learning
akan dimanfaatkan atau tidak sangat tergantung bagaimana pengguna
memandang atau menilai e-learning tersebut. Namun umumnya digunakannya
teknologi tersebut tergantung dari:
- Apakah teknologi itu memang sudah merupakan kebutuhan
- Apakah fasilitas pendukungnya yang memadai,
- Apakah didukung oleh dana yang memadai dan
- Apakah ada dukungan dari pembuat kebijakan.
Berikut ini beberapa prinsip penting yang dianut dalam teori e-learning, yaitu:
Prinsip Multimedia
Dalam teori e-learning dianut prinsip bahwa pembelajaran yang melibatkan
kombinasi beragam media seperti audio, visual, dan teks akan
memberikan kesempatan untuk siswa belajar secara lebih baik dan lebih
mendalam dibanding media yang hanya mengakomodasi salah satunya saja.
Prinsip Modalitas
Pembelajaran akan lebih efektif ketika suatu visual dikombinasikan
dengan narasi audio dibanding penjelasan melalui teks pada layar. Akan
tetapi terdapat pengecualian ketika pembelajar telah mengetahui atau
mengenal tentang konten yang sedang disajikan, atau narasi diberikan
dalam bahasa asing, atau ketika pembelajar mengulang-ulang bahan
pembelajaran multimedia tersebut.
Prinsip Koheren
Prinsip koheren dapat dijelaskan seperti ini: ketika seorang pembelajar
(siswa) makin tidak mengetahui tentang konten yang akan dibelajarkan,
maka semakin ia terganggu oleh hal-hal yang tidak berhubungan dengan
konten yang juga tersaji di dalam media (multimedia) tersebut, seperti
musik, bagian video yang tidak berhubungan, grafis, dan sebagainya. Akan
tetapi keadaan dapat sebaliknya pada siswa yang telah mengetahui konten
tersebut, makin banyak ia mengetahui konten yang disajikan dengan
hal-hal lain yang tidak relevan, makin membuat ia termotivasi.
Prinsip Persentuhan
Prinsip persentuhan maksudnya, adalah dalam belajar sesuatu, siswa akan
lebih efektif ketika informasi-informasi atau konten yang saling
berkaitan dan berhungan disajikan secara bersama-sama atau berurutan.
Prinsip Segmentasi
Belajar, menurut prinsip segmentasi akan lebih efektif ketika konten
dipotong-potong menjadi sub-sub bagian sehingga lebih mudah dicerna oleh
siswa (pembelajar). Menyajikan konten secara segmental akan membuat
pembelajaran menjadi lebih mendalam dan mudah dipahami. Setiap
segmentasi pembelajaran juga harus ditunjukkan secara jelas kepada siswa
(pembelajar).
Prinsip Simbolik
Dalam e-learning, belajar akan lebih mudah dengan ditambahkannya
simbol-simbol yang relevan seperti tanda panah, menambahkan lingkaran
pada kata-kata penting, memberi cetak tebal, warna khusus, dan
sebagainya.
Prinsip Kontrol oleh Siswa (Pembelajar)
Prinsip kontrol oleh pelajar (siswa) maksudnya adalah, pembelajaran akan
semakin efektif ketika mereka mempunyai kesempatan untuk mengontrol
kapan mereka memberikan pause, mundur ke belakang, mainkan, berhenti
(dalam bentuk tombol-tombol) sehingga mereka mampu menyesuaikan
kecepatan pembelajaran dengan kecepatan belajar mereka masing-masing.
Atau mereka dapat mengulang-ulang bagian-bagian tertentu yang belum
jelas dan kurang dipahami.
Prinsip Personalisasi
Walaupun e-learning sesungguhnya menggunakan komputer dalam
pelaksanaannya, akan tetapi prinsip personalisasi tetap harus dipegang
teguh. Dalam hal ini, misalnya ketika menggunakan suara untuk narasi,
bagaimana narasi dibuat harus diperhatikan baik mengenai kata-kata yang
digunakan hingga intonasi dan cara pengucapannya sehingga siswa atau
pembelajaran merasa seakan-akan ia tengah belajar dengan manusia dan
bukan dengan seperangkat alat.
Prinsip Pre-Training
Prinsip pre-training maksudnya adalah, dalam e-learning perlu disiapkan
bahan-bahan pembuka untuk mengenalkan apa yang akan mereka pelajari
dengan memberikan misalnya kata-kata kunci atau menyebutkan tujuan yang
akan dicapai serta bagaimana mereka akan belajar di awal pembelajaran.
Hal ini telah diketahui mampu membantu siswa yang memiliki sedikit
pengetahuan (bekal) awal tentang konten yang akan disajikan.
Prinsip Tidak Mubazir
Dalam e-learning perlu dihindari konten yang mubazir. Contoh konretnya
misalnya ketika disajikan sebuah grafik lalu diberikan narasi dan
diberikan pula penjelasan berupa teks, maka ini dapat dikatakan sebagai
sebuah kemubaziran. Jadi ini harus dihindari. Jika grafik ingin ditemani
dengan narasi berbentuk audio, maka janganlah menggunakan teks karena
justru akan mengganggu, dan begitu pula sebaliknya, jika menggunakan
teks, kurangilah narasi.
Demikian beberapa prinsip-prinsip dalam teori e-learning yang harus diperhatikan dalam sebuah pembelajaran menggunakan e-learning atau dalam sebuah multimedia pembelajaran berbasis e-learning.
Demikian beberapa prinsip-prinsip dalam teori e-learning yang harus diperhatikan dalam sebuah pembelajaran menggunakan e-learning atau dalam sebuah multimedia pembelajaran berbasis e-learning.
Salam Distance Learning...
BalasHapusUntuk yang kedua kalinya kami memohon maaf jika menyatakan tampilan atau layout Saudara Abang Fahri sulit untuk dibaca, selain dengan font huruf yang kecil, warna background serta warna huruf juga kurang mendukung sehingga pembaca sulit memahami isi artikel yang dituliskan. Sangat disayangkan...
Selanjutnya, izin menanggapi artikel tersebut bahwa seperti yang kita ketahui bersama e-learning atau pembelajaran elektronik hanyalah contoh/sebagian dari PJJ (distance learning). Masih banyak jenis-jenis yang lainnya, seperti web based learning, online learning, blended learning dan sebagainya. Selain itu untuk e-learning sendiri tidak harus berbasis online (internet) tapi dapat juga offline. Artinya perangkat/bahan ajar/belajar dimasukkan ke dalam softfile bentuk VCD atau semacamnya sehingga dapat dipelajari secara mandiri oleh pebelajar yang tidak memungkinkan bertemu dengan pembelajar. Intinya PJJ mengutamakan prinsip kemandirian.
Terima kasih.
memang sangat bisa dengan cara melalui diskusi online karena pembelajaran e-learning tidak sepenuhnya online namun bisa melalui tatap muka dan learning by doing incidental learning, jadi guru masih tetap bisa menilai siswa melalui berbagai aspek afektif dan psikomotorik.
BalasHapusterima kasih atas tanggapannya